Pemenang Favorit Sayembara Kucing Malas: Si Kucing Batman


5 shares

SI KUCING BATMAN

oleh Indira Hatmanti Puspitasari

Siang hari kala itu, aku dan beberapa teman satu kelompokku memutuskan untuk berkumpul di rumahku. Kami yang saat itu duduk di bangku SMA, sedang dikejar hari-h ujian olahraga, dimana diharuskan untuk menciptakan sebuah kreasi senam irama dan menampilkannya saat ujian nanti. Setelah try out Bahasa Inggris selesai, kami bergegas untuk berangkat menuju rumahku. Sebagai tuan rumah, aku sampai terlebih dahulu agar dapat menyiapkan beberapa suguhan untuk menghormati mereka sebagai tamu.

Ketika aku hendak melepaskan sepatuku di teras, kulihat di sofa teras terdapat seekor kucing yang dengan tidak tahu malunya berloncatan kesana kemari sambil sesekali menggigit-gigit serta menendang-nendang bantal yang tadinya bersandar manis di punggung sofa. Itu bukan pertama kalinya aku bertemu dengan si kucing. Mungkin sudah sekitar seminggu dia rajin datang dan pergi di teras rumah. Dia yang sangat sederhana membuatku cukup mudah untuk mendeskripsikannya, karena aku yakin, banyak sekali kucing di luar sana yang terlihat mirip dengannya. Dia merupakan kucing jenis lokal alias kampung yang memiliki bulu rambut tipis dengan corak warnanya hitam dan putih. Namun, setelah menamatkannya, ternyata dia memiliki keunikan pada corak warna hitam di bagian wajahnya. Corak hitam di wajahnya hanya melingkupi telinga dan kedua matanya, sedangkan daerah hidung hingga bibirnya semua berwarna putih, seakan-akan dapat menyaingi topeng batman.

Keunikan lainnya, dapat dilihat dari segi polah tingkahnya. Dia merupakan kucing paling hiperaktif yang pernah kutemui. Selain sedang makan dan tidur, dia selalu berkeliaran kesana kemari dan bermain-main dengan apapun yang ada di sekitarnya. Hingga terkadang aku dapat melihatnya tampak terengah-engah setelah melakukan aksinya. Sebenarnya semua tingkahnya tidak membuatku jengkel, melainkan aku semakin gemas untuk memeliharanya. Akan tetapi, sudah terlalu banyak kucing yang kuasuh di rumah, dan ibu tidak mengizinkan jika aku berniatan untuk menambah kucing  lagi. Oleh karena itu, aku tidak memberinya  nama dan lebih sering menghiraukannya, kecuali saat dia meminta makanan.

Aku menghampiri kucing yang masih betah bergulingan di sofa teras dan menggodanya dengan menggelitik bagian perutnya. Dia meresponnya dengan tendangan-tendangan kecil oleh keempat kakinya dan menggigit-gigit jemariku. Tidak lama kemudian, satu per satu teman-temanku tadi sampai di rumah, sehingga kuhentikan kegiatan bermainku bersama kucing itu. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk dan segera menyiapkan suguhan yang tadi tertunda saking asyiknya bermain dengan kucing.

Teman-teman sekelompokku terdiri atas 4 laki-laki yaitu Wanda, Fanuel, Moses, dan Bagus, dan 2 perempuan yaitu Niar dan Monica. Tanpa membuang waktu, setelah mereka mencicipi beberapa makanan ringan dan minuman yang kusediakan di meja ruang tamu, kami langsung memutar balikkan otak kami untuk mencipatakan serangkaian gerakan senam irama. Cukup lama hingga akhirnya senam irama ciptaan kami jadi, dan dilanjutkan kami melakukan latihan agar dapat merealisasikan setiap gerakannya dengan lancar.

“Dir, a-aku ngambil air pu-putihnya banyak nggak apa-apa ya?” tanya Moses padaku dengan napas tersengal ketika latihan kami telah selesai dan kami semua duduk tepar di lantai.

“Iya, nggak apa-apa, yang lain kalau haus langsung ambil aja air putihnya yang banyak,” tawarku.

Mereka semua mengganggukkan kepala dan secara bergantian mengambil air putih di atas meja ruang tamu. Suasana hening pun tercipta. Kami yang tadi berapi-api saling menyuarakan pendapat kami mengenai gerakan untuk senam irama, kini justru menjadi seperti kehabisan bahan pembicaraan setelah bersantai. Kami semua sebenarnya tidak terlalu dekat, terutama aku serta Niar yang dikenal tidak mudah akrab dengan teman lawan jenis. Karena itulah yang seharusnya saat itu kami bercengkerama, malah jadi  diem-dieman. Beberapa menit kemudian, Fanuel, yang memang paling tidak bisa diam jika di kelas mulai angkat bicara.

“Dira, katanya kamu punya banyak kucing? Mana sini aku mau liat,” ujarnya.

“Ada kok, semuanya lagi ada di ruangan khusus kucing. Mau aku anterin kesana kah?”

“Boleh, rek ayo liat….” belum sempat Fanuel mengakhiri kalimatnya, Moses mengagetkan kami dengan teriakannya.

“Diraaa! Kucingmu gigit-gigit sepatuku!”

Aku langsung mengalihkan pandanganku ke depan pintu tempat  teman-temanku menjajarkan sepatu mereka. Si kucing batman kembali menggalakkan aksinya mengobrak-abrik barang-barang yang dijumpainya. Kali ini dia memilih sepatu Moses sebagai sasaran. Kami semua tertawa melihat kelakuannya sekaligus tertawa melihat reaksi wajah Moses yang tampak khawatir melihat  umur sepatunya sepertinya tidak akan lama lagi. Ketika aku hendak mengangkat kucing itu agar sepatu Moses tidak rusak, teman-teman yang lain mencegahku dan menyuruhku untuk membiarkan kucing itu tetap menganiaya sepatu Moses. Kini si kucing batman itu tampak kebingungan karena salah satu cakar di kaki depannya menyangkut di kaos kaki Moses yang tadi memang berada di dalam sepatunya. Gelak tawa kami pun semakin pecah, apalagi ketika dia sedang mencoba untuk mengibas-ibaskan kaos kaki Moses agar terlepas dari cakarnya. Karena gagal, alhasil dia menyeret kaos kaki Moses kemana-mana.

“Dir, udah dong Dir. Bawa aja kucingnya kesini, biar main sama kita,” ucap Moses  memelas. Aku terkekeh sebelum akhirnya melepaskan kaos kaki Moses dari cakar kucing  itu dan menggendong nya ke depan mereka. Tanpa ba-bi-bu masing-masing dari mereka⸺yang sudah terlampau gemas dengan kucing itu⸺langsung mengeluarkan barang yang dapat dijadikan target mainan baginya. Wanda mengeluarkan sabuknya, Fanuel dan Bagus mengeluarkan dasi mereka, Moses mengambil sehelai lidi dari sapu lidi yang terdapat di belakang pintu, Niar dan Monica mengeluarkan bolpoin, sedangkanaku mengeluarkan topi sekolahku. Kami semua mencoba untuk menarik perhatiannya dengan menggoyang-goyangkan barang yang kami bawa. Kucing itu kembali terlihat kebingungan namun kali ini dia berusaha memperlihatkan kebingungannya dengan mengeong. Selang beberapa detik, kucing itu meloncat ke arah Moses dan memutuskan lidi sebagai target pertamanya. Sontak kami tertawa karena lagi-lagi Moses yang menjadi sorot perhatian si kucing.

“Kayaknya suka banget kucingnya sama Moses, Dir. Udah, buat Moses aja hahaha” lontar Wanda. Satu per satu barang kami diterjangnya dan dimainkan semaunya tanpa ada satu pun barang kami yang dilewatkannya. Sampai-sampai kami menjulukinya sebagai kucing akrobatik dan menyorakinya saat dia sempat terlihat melakukan salto saking lincah dan gesitnya dia bermain. Kami terus menghabiskan waktu kami bersama kucing itu hingga dia terlihat kelelahan dan menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengatur napasnya yang tampak ngos-ngosan. Tidak terasa sore hari telah semakin gelap. Kucing itu telah menyatukan kami yang tadinya canggung, menjadi seolah-olah memang sudah akrab sejak lama. Akhirnya pun teman-temanku pamit pulang dan tinggal lah aku dengan si kucing batman itu.

Aku membawanya kembali ke teras karena selain kucing yang memang kupelihara, tidak boleh ada kucing yang masuk ke dalam rumah apabila malam hari hampir tiba. Aku memangkunya lalu mengusap-usap kepalanya sebagai tanda terimakasih karena dia telah membuat hari itu menjadi sangat menyenangkan bagiku dan teman-temanku. Aku mengambil beberapa gambar  menggunakan ponselku, dia yang sedang pewe di pangkuanku. Sejak saat itu aku berjanji akan selalu menyapanya kapan pun dia berada di teras rumahku.

Sayangnya, keesokan harinya saat aku bersiap untuk berangkat ke sekolah, aku tidak melihat kehadirannya di teras dan saat aku pulang pun batang hidungnya masih tetap nihil. Hari demi hari berlalu, hingga kini aku tengah menjalani kehidupan perkuliahan, dia tidak pernah muncul lagi di hadapanku. Dimanapun dia berada sekarang, aku harap semoga dia baik-baik saja dan masih super hiperaktif seperti dulu. Sampai jumpa, kucing batman.


Like it? Share with your friends!

5 shares

What's Your Reaction?

Gemas! Gemas!
0
Gemas!
Marah! Marah!
0
Marah!
Jenius! Jenius!
0
Jenius!
Ngakak! Ngakak!
0
Ngakak!
Sukak! Sukak!
3
Sukak!
Kaget Kaget
0
Kaget
Takuut! Takuut!
0
Takuut!
Sedih Sedih
2
Sedih
WTF WTF
1
WTF

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles